Konsep Matla’ dalam Pandangan Fiqh Dan Ilmu Astronomi

Terjadinya perbedaan mathla’ antar berbagai negeri di belahan bumi ini adalah sesuatu yang dapat dimaklumi. Namun para ‘ulama tersebut berselisih pendapat ketika hilal terlihat di kawasan negeri tertentu; apakah ru’yah tersebut berlaku bagi seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, ataukah masing-masing negeri berdasarkan ru’yah mereka sendiri. Sebelum dijelaskan berberapa pendapat para ‘ulama tentang perbedaan…

Al-Kutub al-Mu’tabarah: Sumber Hukum Ketiga, Prioritas Utama.

Secara formal, NU menempatkan al-Qur’an di atas teks apapun sebagai sumber hukum dan menenpati posisi yang sangat terhormat dalam wacana keislaman. Keyakinan akan status ini dipercaya oleh semua faksi dan organisasi, apalagi NU. Meskipun beberapa sarjana liberal Islam terkemuka mengkritik kodifikasi al-Qur’an pada masa Usman, akan tetapi mereka sepakat akan keotentikan dan kewahyuan al-Qur’an. Di…

‘Tekstualistik: Sikap Bermazhab Yang Inkonsisten

NU sebagai institusi (jam’iyah) sekaligus gerakan dakwah Islam (diniyyah Islamiyah) dan sosial kemasyarakatan (ijtima’iyah), sejak awal berdirinya telah menjadikan faham aswaja sebagai basis berteologi dan mazhab empat sebagai pegangan dalam berfikih. Perkembangan fiqh dalam bermazhab tergantung pada dua prinsip hermeneutika. Pertama, prinsip singkronik, yakni menegaskan bahwa setiap formulasi hukum harus merujuk pada wahyu sebagai syarat…

‘IDDAH: Ke Arah Etika Sosial Yang Membebaskan

Masyarakat arab pra-Islam pernah menerapkan apa yang dikenal dengan ‘iddah dan ihdad. Term ini dimaksudkan dengan suatu kondisi dimana kaum perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya bahkan juga oleh anggota keluarga yang lain, harus mengisolir diri di ruang terpisah selama setahun penuh.[1] Dalam pengasingan itu, perempuan tersebut tidak diperkenankan untuk memakai wewangian, memotong kuku, menyisir…

NIKAH, FASAKH DAN TALAK DI BAWAH TANGAN: Hukum Angkat Tangan.

Problem sahnya perkawinan dengan tegas diatur dalam pasal 2 ayat 1 dan 2 UUP.[1] Pada hakikatnya kedua ayat dalam pasal tersebut bermakna satu, yakni sahnya perkawinan adalah dicatatkan. Dengan demikian, perkawinan yang tidak dicatatkan tidak sah menurut negara. Pengertian ini yang menjadi pegangan di kalangan para hakim di pengadilan. Akan tetapi, masyarakat umumnya memahami perkawinan…

WACANA PEREMPUAN DALAM AL-QUR’AN

Dalam konteks tersebut, pemahaman ilmiah dan kultural terhadap perbedaan jenis kelamin tersebut menimbulkan perdebatan panjang, termasuk di kalangan ilmuwan-teolog dan feminis. Mereka memberikan andil penting dalam wacana ini karena penafsiran-penafsiran mereka terhadap kitab suci merujuk kepada kondisi obyektif lingkungan masyarakat dimana mereka berada. Tidak sedikit penafsiran mereka yang membenarkan konstruksi budaya yang hidup di dalam…

TRADISI BAHSUL MASAIL NU SUMENEP : Wadah Pemahaman Islam secara Mazhabi

Dalam memahami Islam, NU sangat berhati-hati dan tidak mau memecahkan persoalan keagamaan yang dihadapi dengan merujuk langsung kepada nas al-Qur’an maupun Sunnah. Hal ini tidak terlepas dari pandangan bahwa matarantai perpindahan ilmu agama Islam tidak boleh terputus dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Yang dapat dilakukan adalah menelusuri matarantai yang baik dan sah pada setiap…

BIAS GENDER DALAM HASIL KEPUTUSAN LEMBAGA BAHSUL MASAIL (LBM) NU SUMENEP

Dalam tradisi intelektual NU, Lembaga Bahsul Masail (baca:LBM)  memiliki posisi yang sangat penting, karena berbagai problem masyarakat dapat dipecahkaan secara fiqhis. Walaupun demikian, bukan berarti hasil keputusan bahsul masailnya tidak dapat didiskusikan sama sekali. Karena itu, metode istinbath yang digunakan dan validitas hukum yang dihasilkan tentu masih tetap terbuka untuk diperbincangkan, apalagi jika kita memotret…