Salah satu ragam fenomena langit yang sangat faktual bulan ini adalah  kemunculan komet Neowise atau komet C/2020 F3, yang disaksikan pada puncak fenomena langit hari Kamis (23/7/2020). Komet Neowise merupakan komet retrograde yang dipotret oleh teleskop antariksa NEOWISE (Near Earth Object Wide-field Infrared Survey Explorer) milik NASA dan digolongkan sebagai komet nyaris-parabolik karena memiliki kelonjongan orbit Neowise sebesar 0,9991762. Sementara itu periode komet itu selama 6.765,83 tahun dengan panjang setengah sumbu mayor sedikit lebih besar dari jarak rata-rata Saturnus ke Matahari.

Masyarakat Indonesia sangatlah beruntung dapat menyaksikan Komet Neowise  karena komet tersebut merupakan fenomena langka yang hanya akan kembali dalam waktu 6.800 tahun lagi. Komet Neowise baru ditemukan pada 27 Maret 2020 lalu oleh teleskop luar angkasa badan antariksa Amerika (NASA).

Cara Penemuan Komet, Bagaimanakah?.

Semua lokasi di Indonesia berpeluang mengamati fenomena langit itu, akan tetapi waktunya berbeda-beda. Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), komet Neowise disaksikan mulai 19-25 Juli 2020 setelah matahari terbenam. Kemunculannya sudah ada mulai tanggal 3 Juli 2020 sampai 4 Agustus 2020 walaupun mulai tanggal 26 Juli 2020 tidak bisa disaksikan secara visual karena magnitudo komet lebih besar dari 4,5. Itu merupakan batas magnitudo untuk pengamat di daerah perkotaan yang polusi cahayanya tinggi.

Salah satu lokasi yang bisa mengamati komet Neowise adalah Kupang, NTT. Tim LAPAN melakukan pengamatan dengan menggunakan kamera Sony a7s Mark II dengan lensa 240 mm (F/6,3) yang dipasang pada mounting iOptron Smart EQ Pro+ untuk mengikuti gerak komet. Menurutnya, hasil pengamatan menunjukkan bahwa posisi komet di antara rasi bintang Ursa Mayor dan semakin lama komet akan bergeser ke arah barat.

Komet Neowise berada di barat laut sekitar 40 derajat ke arah barat dari utara dan ketinggian di Indonesia bervariasi antara 10-20 derajat. Komet Neowise bisa ditemukan di daerah rasi bintang Ursa Mayor (Rasi Biduk), sekitar arah barat laut. Untuk memudahkannya, bisa menggunakan peta langit dalam membantu menemukan posisi rasi bintang tersebut.

Komet terlihat semakin tinggi ketika senja. Namun akan semakin meredup karena posisinya semakin jauh dari Matahari sebagai sumber cahaya dari komet, karenanya, pengamatan sebaiknya menggunakan binokuler, teleskop, atau kamera dengan kemampuan bukaan panjang. Pengamatan dengan mata telanjang agak sulit, akan tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, namun tergantung kondisi polusi cahaya, cuaca di lokasi, dan kemampuan mata si pengamat untuk melihat objek yang redup. Komet Neowise bisa terlihat di perkotaan dengan magnitudonya kurang dari 6,5 dengan kondisi cuaca harus benar-benar cerah dan tidak ada awan ataupun kabut tipis yang menghalangi pandangan. Jika masih sulit diamati karena kabut tipis atau lain hal, maka harus menggunakan kamera SLR dengan mode long-exposure dan ISO yang tinggi (misal 3.200).

Perlu diketahui bahwa komet Neowise berada pada titik terdekat dengan matahari, yaitu jarak 44,1 juta kilometer tanggal 3 Juli pukul 23.20 WIB dan jarak dari bumi sekitar 172,64 juta kilometer serta komet tersebut ada di titik terdekat bumi, yaitu pada jarak 103,5 juta kilometer tanggal 23 Juli 2020 pukul 09.41 WIB.

Komet Neowise pertama kali diamati pada 27 Maret 2020 dengan magnitudo tampak +17. Lalu seiring mendekati matahari, nilai magnitudo tampak semakin mengecil. Lebih lanjut, observasi terakhir oleh Coma Database Observer (COBS) pada 9 Juli 2020 menunjukkan bahwa nilai magnitudo komet itu sudah mencapai +1,5. Diameter koma (ekor komet) ini mencapai 17,7 menit busur atau sedikit lebih besar dari jejari tampak bulan. Komet Neowise paling terang ketika berada pada titik terdekat dengan matahari dengan magnitudo tampak +1,1. Komet ini hanya bisa disaksikan dalam waktu sebentar. Akan tetapi nanti waktunya akan semakin lama atau panjang menjelang Agustus 2020. Dan faktanya komet Neowise disaksikan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan perkotaan seperti Surabaya, Ponorogo, Medan dan Aceh dengan kondisi polusi cahaya tinggi.

 

Tips Cara Memfoto

  1. Pilih lokasi pengamatan yang arah Barat Laut bebas obstruksi
  2. Bebas dari polusi cahaya dan perhatikan jendela pengamatan
  3. Jangan gunakan instrumen dengan medan pandang sempit
  4. Jika objek sangat redup, gunakan perangkat yang memiliki fitur go-to dan tracking atau guidingnya bagus
  5. Ambil shutter speed yang panjang, tetap tidak terlalu panjang
  6. Jika Komet redup, ambil citra yang sama berulang kali dan ambil citra kalibrasi (bias, dark, flat) untuk kemudian ditumpuk (stack)
  7. Timing sangat penting
  8. Jika Anda hanya memiliki fasilitas non-tracking, maka untuk menghindari trail bisa memakai kamera biasa Anda dapat mengaturnya dengan cara berikut: Gunakan tripo, Aturan 500: shutter speed sama dengan 500 per focal length (mm) atau crop sensor, Crop sensor untuk merk Canon: 1,6, Crop sensor untuk merk kamera Nikon: 1,5


Sumber Bacaan:
https://jabar.tribunnews.com/

https://www.kompas.com/

Gambar dari GWA ADFI

Asli Mandala Gapura Sumenep Madura Jawa Timur, Koordinator Perukyat Wilayah Madura, Pengabdi di IAIN Madura (dulu STAIN Pamekasan) , Mampir Tidur di Pondok Pesantren Mathali'ul Anwar Pangarangan Sumenep, Pernah Nyantri di Asrama MAPK Jember dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Bersandar di PMII dan NU, Ta'abbud Safari di RAUDHAH Masjid Nabawi dan Manasik Haji Mekkah (2014), Sekarang Nyantri di UIN Walisongo Semarang

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *