” YA ALLAH … BERIKANLAH BAPAK SETEGUK AIR SURGAMU UNTUK BERBUKA, AMIN”

Kematian adalah ajal yang tertuliskan. Namun, tak seorangpun mengetahui kapan dan di bumi mana ia akan ditanahkan serta dengan cara apa ia terlepas nafasnya. Hanya Allah Swt. yang maha tahu dan mengatur segalanya.

Bapak…

Engkau telah tiada, pergi tiba-tiba, batas usiamu telah sampai saat Ramadhan 1441 H melangkah ke hari 18. Kami, anakmu tak menyangka “bahasamu: engkok nitep emma’ na (ibu)”, yang selama ini engkau ungkapkan, baru kami sadari sebagai bahasa pamitan.

Bapak…

Senin Pahing, 11 Mei 2020 M, tepat 18 Ramadhan 1441 H pukul 17.29 Wib, saat adzan maghrib tiba kau pergi menghadapNya. Kami antarkan kau ke pembaringan terakhir malam itu pukul 23.23 Wib sebagai penutup usiamu yang ke 76.

Kepergianmu, dalam kondisi sedang berpuasa, membuat kami anakmu bermohon ‘Ya Allah terimalah puasa Bapak kami dan berikanlah dia seteguk air surgaMu untuk berbuka, amin’.

Bapak…

Engkau sangat dekat dengan al-Quran. Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun… kau tak pernah melepasnya. Walau engkau bukan penghafal al-Quran, tapi istiqamahmu membaca al-Quran membuatmu bersosok bersahaya, tenang, sabar, tak mau menjadi beban orang lain, pemaaf dan menjadi panutan anak-anakmu serta siapa saja yang pernah belajar kepadamu. Semoga engkau dikumpulkan bersama penghafal dan pengamal al-Quran. Amin.

Bapak…

Kedekatanmu dengan anak-anakmu, saudara kandung -adik dan kakakmu,  guru, tetangga dan handaitolan, serta siapa saja yang pernah belajar kepadamu membuat mereka terkenang atas segala kebaikan dan jasa-jasamu, apalagi engkau mengikatnya dengan silaturrahim yang tak terputus. Semoga kami, anak-anakmu, mampu menteladani dan melanjutkannya.

Bapak…

Kemandirianmu membuat tak mengandalkan orang lain, tapi bukan tak membutuhkannya. Kau dapat melakukan apa saja tanpa ada yang menyuruhnya. Kau tidak mau orang lain menjadi bebanmu, kau lakukan saja sendiri termasuk kepada anak-anakmu. Kau menyuruhnya hanya jika kau melihat perlu memberi pembelajaran bagi mereka.

Bapak…

Kegemaranmu tak beda dengan kakek, bertani, berkebun, menyayangi burung dan beberapa peliharaan yang lain, tanpa melepas profesimu sebagai pendidik yang kau abdikan untuk masyarakat, bangsa dan negara.

Kau menjadikan sawah pertanian sebagai media olah raga dan refresing yang membuatmu selalu sehat dan tidak pernah sakit walau di penutup usiamu sembat berbaring di rumah sakit hanya 30 menit.

Bapak…

Mereka terkejut dengan kepergianmu. Kedatangan mereka berta’ziyah mulai hari 1 sampai ke 7 hanya untuk mengenang jasa-jasamu.

Terima kasih atas segala panjatan doa saudara, guru dan murid, tetangga dan handaitolan, sahabat dan sejawat, serta seluruh yang tak mampu disebutkan. Semoga doa terijabahi untuk kita semua dan Allah Swt. permudah langkah kita menuju kebaikan yang engkau ridhoi. Amin.

Hari ini adalah hari ke 8, kami melihatmu sebagai sosok sempurna. Akhirnya, anak-anakmu hanya berdoa semoga engkau khusnul khatimah, mendapatkan tahta yang indah bersama orang-orang yang Allah Swt. sukai dan sayangi di akhirat nanti. Amin.

@Download memoriku tentang Bapak, Rachmad H. Miftahul Arifin, Pajagalan Gapura Barat, Mei 2020.

 

 

 

 

 

 

 

Asli Mandala Gapura Sumenep Madura Jawa Timur, Koordinator Perukyat Wilayah Madura, Pengabdi di IAIN Madura (dulu STAIN Pamekasan) , Mampir Tidur di Pondok Pesantren Mathali'ul Anwar Pangarangan Sumenep, Pernah Nyantri di Asrama MAPK Jember dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Bersandar di PMII dan NU, Ta'abbud Safari di RAUDHAH Masjid Nabawi dan Manasik Haji Mekkah (2014), Sekarang Nyantri di UIN Walisongo Semarang

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *